What My 20s Tought Me

  • Setiap orang pasti diuji sesuai kesanggupannya masing-masing. Bukan tentang siapa yang paling berat, karena yang paling berat ujiannya adalah rasul-rasul Allah. Kita ga bisa mengukur berat ujian seseorang dengan cara pandang kita, karena tiap orang pasti punya kapasitasnya masing-masing dalam menghadapi ujiannya. Yang terbaik adalah yang bisa banyak-banyak mengambil hikmah dari ujian tersebut. Banyak orang yang sudah diuji ujian bertubi-tubi tapi ga kunjung sadar ga kunjung berubah karena dia menyangkal atau tidak mendengarkan atau tidak jujur memahami hatinya. Aku yakin panggilan Allah itu terus menerus ada, cuma orang yang berlapang hati dan jujur dengan dirinya yang bisa menerima panggilan itu. Karena sejatinya ujian datang tak lain hanya untuk menambah level kedekatan kita dengan Allah, sesuai tujuan hidup kita yakni beribadah kepada Allah. Menjadi sebaik-baik hamba, menerima dan mentaati apa mau Allah, itulah tujuan penciptaan kita. Semua kenikmatan dan kesusahan yang Allah berikan semuanya bersifat netral, semuanya karna kasih sayangNya. Ketika kita diberi nikmat atau pun ujian sejatinya untuk membuat kita makin mendekat, beryukur atas nikmat dan bersabar atas ujian. Sekali lagi, semuanya semata-mata hanya agar semakin mendekatkan diri ini kepada Allah. Kita ga bisa terlepas untuk tidak mengingat Allah, entah saat senang maupun saat susah. Jangan sampai kita hanya baru mengingat Allah saat susah tapi lupa saat kita senang ataupun sebaliknya.
  • Berbuat baik itu ga pernah rugi, meskipun kebaikan kita ga dibalas sama orang yang sudah kita beri kebaikan. Tapi aku yakin kebaikan itu pasti ada nilainya. Pernah rasanya sudah melakukan banyak kebaikan tapi ternyata kebaikan itu tak berbalas, bahkan yang ada malah amarah dan keburukan yang aku dapatkan. Sangat sakit dan kecewa memang, tapi itu cara Allah buat ngingetin hambanya bahwa ternyata melakukan kebaikan semata-mata hanyalah karena Allah. Ikhlas itu hal berat sangat saaangaatt berat, tapi yakin karena kekuatan dari Allah kita pasti bisa ikhlas. Suatu saat Allah bakal memberikan tanda "cukup" untuk stop tidak perlu berlebihan memberikan kebaikan pada orang-orang tersebut. Mungkin kita merasa masih ingin memberikan kebaikan tersebut, tapi Allah dengan rahmat dan karuniaNya menghindarkan hal-hal buruk untuk kita. Sehingga Allah yang mengatur membuat jarak kita dengan orang-orang yang sudah menyakiti kita. Tugas kita perlu sadar, melapangkan hati dan pikiran. Apakah kebaikan ini makin mendekatkkan diri ini ke Allah atau hanya sekedar ingin terlihat baik di hadapan manusia semata. Taat dan yakin dengan semua kehendakNya emang ga mudah tapi pasti Allah mampukan. Suatu saat kebaikan-kebaikan kita pasti akan terbalas lebih indah jika kita niatkan semuanya hanya untuk Allah.
 
 

  • Dulu rasanya mending yaudalah ngejalanin aja apa yang ada, pelit buat ngasih effort lebih ke suatu hal. Sampai suatu saat aku ngerasain adanya kenikmatan setelah berlelah-lelah berusaha. Terlepas apapun itu hasilnya, entah berhasil atau gagal. Perasaan lega dan puas ini yang bikin emosi lebih stabil buat ngeevaluasi hasilnya. Orang yang sehat mental, dia tidak menyesal dengan apa yang sudah dilalui. Bukan karena semua sudah tercapai hasilnya sesuai keinginannya, tapi mudah menerima keadaan diluar kendalinya. Kita jadi tidak terlalu menyalah-nyalahkan diri, marah dan sebagainya, karena kita sudah mengusahakan yang terbaik. Kalo kata anak sekarang "Nice Try", sudah berusaha yang terbaik dan kita bisa coba lagi yang lebih baik kedepannya. It's easier to move on and we can open ourself to new opportunities. The doors that open when we let go~

Comments